Lifestyle,  Story,  Travel

A First Timer’s Trip To Raja Ampat, Papua

Semua orang tau betapa indahnya negara Indonesia ini, negara yang memiliki banyak gugusan pulau-pulau. Raja Ampat, nama kabupaten yang ada di provinsi Papua Barat, merupakan salah satu lokasi yang sudah gua buktikan keindahannya. Matahari terbit nan cantik yang malu-malu untuk memunculkan rupa, air laut yang super jernih, gelitik pasir putih di antara kaki, awan cerah, deburan suara ombak yang membuat hati tenang, segala sesuatu dari tempat itu membuat gua merasa di surga.

Rencana untuk pergi ke tanah Papua ini memang sudah ada dalam benak gua sedari kuliah, ditambah gua punya temen kuliah yang memang putra asli Papua, Hendriko Mayor namanya. Disaat semua orang menanam keinginan untuk pergi ke Raja Ampat, Ka Pace aka Ka Hendriko sepertinya udah terlalu sering menikmati keindahan Raja Ampat, karena Raja Ampat merupakan kampung halamannya, tempat Ayahnya dilahirkan.

Gua bersama Rendy dan Dina (sahabat traveling gua) memutuskan untuk berlibur ke Papua. Setelah mendapat tiket pesawat yang ekonomis, kami memberi kabar Ka Pace yang lagi ada di Papua kalo kami akan berlibur kesana. Ka Pace antusias menyambut keinginan kami yang akan menyambangi tahan kelahirannya, karena menurutnya selama ini orang-orang hanya memberikan omongan-omongan kosong tanpa bukti. Sehingga kedatangan kami membuat semua sangat bersemangat dan kami gak sabar untuk menikmati keindahan Papua.

Seperti biasa gua selalu memilih midnight flight karena masih harus bekerja di siang harinya dan alasan lainnya adalah agar gua bisa tidur di pesawat. Gua bertemu Rendy dan Dina di bandara, karena flight kami bukan direct flight, jadi kami harus transit terlebih dahulu sekitar 2 jam di Makassar. Kami tiba di Bandar Udara Domine Eduard Osok-Sorong, Papua Barat pada jam 07.20 WIT. Ka Pace yang lebih dulu tiba di Sorong dari Jayapura menjemput kami di bandara.

Kami akan langsung melanjutkan penerbangan ke Waisai, Raja Ampat jam 12.00 WIT pada hari yang sama. Sambil menunggu, Ka Pace mengajak kami keliling kota Sorong sambil sesekali bercerita sejarah atau letak geografis Papua, yang jujur aja gua gak mengerti karena gua memang payah dalam hal geografis.

Di kota Sorong aja udah indah, air lautnya juga udah jernih banget dan Ka Pace bilang itu masih belum apa-apa dibanding pulau-pulau di Raja Ampat. Ka Pace mengajak kami ke hotel yang udah dia bookeduntuk istirahat sambil menunggu kedatangan kami, waktu kami gunakan untuk beristirahat sambil menunggu penerbangan kami selanjutnya menuju Raja Ampat. “Nanti mau kemana aja kita di sana?” Tanya Ka Pace. “Kemana aja kami ikut Ka, Kakak kan lebih tau kira-kira bagusnya dimana dan kemana enaknya” kami semua pasrah mau dibawa kemana aja.

Hotel di Sorong

 

Jam 11.00 WIT kami berangkat ke bandara Domine Eduard, perjalanan hanya sekitar 20 menit dari hotel. Begitu sampai di bandara kami langsung check in. Gak menunggu lama kami udah bisa boarding. Perjalanan dari Sorong ke Waisai dengan pesawat hanya 30 menit. Di Waisai kami di jemput sama sepupunya Ka Pace. Gua pikir begitu kami tiba, kami udah sampe di pulau-pulau kece instagram-able seperti yang gua liat di instagram atau google, ternyata kami masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 30 menit ke pelabuhan Waisai.

Menuju Waisai, Raja Ampat

Setelah tiba di pelabuhan kami dijemput sama sepupu Ka Pace yang lainnya, kali ini perempuan. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan boat. Pertama kami berhenti di pasir timbul, tempat ini hanya ada pada jam-jam tertentu saat air sedang surut, begitu air mulai pasang hilanglah tumpukan pasir yang seolah-olah seperti pulau di tengah lautan ini. Pemandangan yang dapat dilihat di pasir timbul ini benar-benar luar biasa indah apalagi saat waktu sudah mendekati matahari terbenam, warna langit yang tadinya biru cerah menjadi orange kemerahan. Keindahan alamnya benar-benar luar biasa, bahkan mata kamera sekalipun gak bisa menangkap keindahan yang hanya dilihat langsung oleh mata kita.

PASIR TIMBUL

Di perjalanan ke rumah yang akan kamu tinggali, kami melewati pulau kecil yang namanya pulau lumba-lumba. Sebenarnya kami tidak berniat untuk mampir di pulau ini, bukan karena tidak ingin, tapi karena hari udah terlalu sore. Tapi begitu boat kami melewati pulau ini dari kejauhan seorang laki-laki yang ternyata masih saudaranya Ka Pace memanggil-manggil kami. Akhirnya kami putuskan untuk mampir. Namanya pulau Lumba-Lumba karena setiap pagi sekitar pukul 05.00 sekumpulan lumba-lumba berenang dan memunculkan rupanya ke permukaan air.

Karena air mulai pasang dan langit mulai gelap, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Yenbuba. Di desa itu kami menginap untuk beberapa hari kedepan, salah satu desa di Raja Ampat dimana keluarga Ka Pace tinggal. Kakak dari Ayahnya Ka Pace tinggal disana bersama dengan anak dan beberapa orang cucunya, dengan senang hati mereka menerima dan menginzinkan kami untuk menumpang tinggal di rumah mereka selama kami berlibur di Raja Ampat. Tidak hanya itu, mereka juga menyiapkan sarapan dan membawakan kami bekal makanan untuk dibawa berkeliling pulau, dan makanan yang dimasak benar-benar membuat kalian akan makan berkali-kali, enak banget. Sambalnya benar-benar juara, jelas aja karena yang memasak adalah sepupunya Ka Pace yang memang seorang chef yang bekerja di resort milik warga negara Jerman di Raja Ampat.

Tidak hanya berlibur tapi gua juga belajar dalam perjalanan gua ke tanah Papua ini, melihat keadaan di tanah Papua membuat gua lebih menghargai hidup. Listrik tidak selalu ada 24 jam di desa ini, sehingga kami harus pintar dan hemat menggunakan gadget kami supaya gak kehabisan batrai untuk foto-foto atau membuat video. Air di desa ini juga gak sebanyak di tempat gua tinggal, jadi gua harus bisa mandi dengan air yang seadanya.

Hari berikutnya kami udah bangun dari jam 5 pagi agar kami bisa menikmati sunrise, kami pergi ke spot yang menurut Ka Pace adalah spot paling kece untuk menikmati sunrise. Sebuah jembatan panjang hingga hampir ke bagian tengah, dengan view beberapa pulau kecil disebrangnya dan lautan yang seperti tak berujung, menjadi tempat kami untuk menunggu matahari itu memunculkan rupanya perlahan-lahan. Indah, hanya kata itu yang melintas di otak gua saat melihatnya.

Finally the sun is coming up!

Sekitar jam 7 pagi kami kembali ke rumah dan bersiap-siap, setelah itu kami melanjutkan petualangan ke Pianemo. Perjalanan sekitar 2,5 jam dari Yenbuba dengan menggunakan boat tentunya. Beruntung cuaca kala itu tidak terlalu panas tapi tidak juga hujan, dan awan pun begitu cerah. Sepanjang perjalanan menuju Pianemo tanpa gua sadari kata-kata seperti “Bagus banget”, “Indah banget”, “Luar biasa viewnya” berulang kali keluar dari mulut gua. Bukan lebay tapi ini benar-benar pemandangan luar biasa, gua seneng banget saat itu, sampe rasanya mau nangis karena terharu. Beneran deh bukannya lebay!

Kalian tau ikan terbang gak sih? Pernah liat gak ikan terbang kaya gimana? Awalnya gua pikir penampakan dari ikan terbang itu seperti yang ada di logo Indosiar, dan hanya mitos belaka. Tapi ternyata, pertama kali sepanjang umur gua hidup di dunia, gua melihat yang namanya ikan terbang. “Itu apa? Burung ya?” Tanya gua. Awalnya gua pikir itu semacam burung yang terbang ke permukaan air untuk memakan ikan kecil atau untuk minum. “Bukan itu ikan terbang” Ka Pace menjawab. “Serius ada ikan terbang?” gua memastikan dan semua mengangguk. Bukan ikan yang terbang di atas langit, ikan ini hanya muncul dengan ketinggian sekitar 20-30 cm di atas permukan air laut dan ikan ini bisa meluncur cepat sambil mementangkan siripnya seolah-olah seperti terbang. Mungkin buat kalian yang memang udah tau tentang hal itu, bakal mikir gua norak, gak apa-apa kok, iya gua norak baru pertama kali liat soalnya jadi sampe sekarang pun masih suka excited kalo ceritain tentang liburan ini.

Begitu kami tiba dan menepi di Pianemo, kami duduk-duduk sebentar sambil meminum air kelapa. Dari pinggir aja kalian udah bisa liat ikan-ikan kecil yang berwarna warni berenang di dalam air. Rasanya ingin langsung loncat dan berenang. Untuk naik dan melihat view dari atas, kami harus menaiki anak tangga. Ada sekitar 100 anak tangga yang harus dinaiki sebelum sampai di puncak, terasa berat sebenarnya karena kami tipe orang yang malas berolahraga, tapi rasa capek dan lelah terbayar begitu kami sampai di puncak di mana biasanya orang-orang berfoto dengan latar belakang gugusan batu-batu dan air laut yang biru. Lagi-lagi kata yang bisa gua ucapkan hanya amazing.

PIANEMO

 Selanjutnya kami pergi ke telaga bintang, sebenarnya Telaga Bintang ini masih di sekitar Pianemo, seolah bersebalahan dengan spot foto yang pertama. Untuk melihat keindahan di tempat ini kami juga harus mendaki, tapi kali ini tidak ada anak tangga dan kami harus memanjat bebatuan. Apa kalian akan menyesal memanjat bebatuan yang tidak seberapa untuk menikmati keindahan seperti ini? Kalo gua yang ditanya, dengan lantang gua akan jawab GAK. Untuk dapat pengalaman yang luar biasa memang harus ada effort yang dikeluarkan.

TELAGA BINTANG

 

TELAGA BINTANG

Selanjutnya adalah Yeben! Menurut Ka Pace belum banyak yang tau tentang keindahan pulau Yeben ini. “Ini surga yang tersembunyi, Mel” begitu katanya saat itu. Yeben adalah pulau kecil yang tidak berpenghuni, belum terexpose dan masih benar-benar asri. Gak perlu jauh hingga ke tengah lautan untuk dapat melihat bintang laut, dari pinggir pantai aja udah banyak banget bintang laut yang bisa dilihat. Kami berenang dan snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut di pulau ini. Ikan-ikan kecil seperti nemo dan dori mudah sekali ditemukan diantara terumbu karang di pulau Yeben ini.

YEBEN

Kami melanjutkan perjalan kami ke suatu desa bernama Arborek. “Di Arborek hatiku ku tinggal” seperti itu mungkin ungkapan lebay yang bisa gua ucapkan. Pulau ini benar-benar cantik. Begitu boat kami bersandar kami sudah disambut oleh perempuan tua, beberapa perempuan paruh baya, dan anak-anak kecil yang seolah-olah menunggu kami sejak lama, perempuan tua itu adalah Bibinya Ka Pace, saudara dari Ayahnya Ka Pace. Di desa ini mereka tinggal, mereka memiliki beberapa homestay disini.

Mereka sengaja menyiapkan makanan yang banyak sekali karena tau kalau kami akan datang. Ikan bakar yang sangat amat besar dihidangkan di atas meja, belum lagi beberapa hidangan seafood lainnya, kami sampai kewalahan untuk menghabiskannya.

Ada satu anak yang benar-benar membuat perhatian kami terfokus, Niko namanya. Anak kecil yang usianya baru beberapa bulan ini sangat lucu dan tidak rewel. Gua yang sebenarnya gak menyukai anak kecil aja jadi tertarik untuk bermain bersama Niko. Gua, Dina, dan Rendy bergantian menggendongnya dan berfoto bersamanya, kami sempat berjanji “Niko, tunggu kami datang lagi ya. Akan kami bawakan baju-baju dan mainan yang lucu untuk Niko” begitu janji kami pada Niko. Setelah puas bermain dengan Niko, akhirnya Niko tertidur lelap. Kami melanjutkan aktifitas kami di Arborek, kami berenang-renang di pinggir dermaga, memberi makan ikan sambil mengabadikan momen ini dalam video.

NICO si ana Arborek
NICO si ana Arborek
Aren’t they cute?

Hari udah mulai sore dan kami harus kembali ke Yenbuba. Sebenarya gua agak males cerita bagian ini, karena setiap ada perpisahan pasti ada adegan mellow-mellow. Mungkin karena sangat jarang bertemu dan sekalinya bertemu waktunya hanya sebentar membuat Bibinya Ka Pace sedih melepas kepergian keponakannya ini. Dengan sedih dia duduk di pinggir dermaga sambil melambaikan tangan kearah boat yang terus melaju menjauhi pulau itu. Selain sedih karena berpisah dengan sanak saudara kami juga sedih karena harus berpisah dengan Niko. “Doakan aku banyak rejeki ya Niko, nanti aku akan datang lagi” itu kata yang gua bisikkan di telinganya.

Diperjalanan kembali ke Yenbuba, kami mampir sebentar ke Sawingrai, disini ada sanak keluarga Ka Pace juga, jadi kami memutuskan untuk mampir dan bersilahtuhrahmi. Dari pinggir boat kami udah bisa melihat ikan-ikan yang cantik, lalu akhirnya kami dibuatkan adonan tepung untuk memberi makan ikan-ikan. “Bagus banget, banyak banget ikannya, warna-warni lagi” kata Dina. “Coba adonannya taro di sela-sela kaki, nanti ikannya makanin disitu berasa kaya lagi di spa” Ka Pace memberikan ide. Dengan polosnya gua mengikuti saran dari Ka Pace itu. Awalnya sih memang seperti di spa, tapi tiba-tiba ikan yang sedikit lebih besar dari yang lainnya datang dan mengantuk jari kaki gua “Aduh, kaki gua digigit” dengan kaget gua teriak. “Kayanya itu hiu deh yang gigit kaki gua” lanjut gua, dan mereka semua hanya mentertawakan kejadian itu.

Sunset dari atas boat
Sunset dari atas boat

Sama seperti hari sebelumnya kami bangun di pagi hari dan menyaksikan matahari terbit. Saat itu adalah hari terakhir kami tinggal di Yenbuba dan harus kembali ke Waisai. Setelah bersiap kami pergi menuju Friwen, ini merupakan pulau terakhir yang kami kunjungi selama kami berada di Raja Ampat. Di pulau ini gua mendapatkan, hmm apa ya gua bilangnya, sebenarnya ini luka di lutut gua akibat gua terjatuh dan terkena pasir dan batu karang. Tapi ini bukan sekedar luka buat gua, ini tanda pengingat yang selalu mengingatkan gua sama keindahan tanah Papua. Gak jelas sih memang, tapi gak apa-apa lah suka-suka gua, yang luka juga gua kan bukan yang lain hahaha

FRIWEN

 

FRIWEN

Kalo kalian lihat foto yang jadi background di blog gua ini, itu adalah bukti dari cantiknya pulau Friwen. Foto dimana gua, Dina, Rendy, dan Ka Pace berlari kearah pantai, dan gua jatuh hingga akhirnya mendapat “Hadiah” luka di lutut kiri gua. Gimana menurut kalian? Indah bukan pulaunya?

Kami tiba di desa Waisai sekitar jam 15.00 WIT, kami di jemput sepupunya laki-laki Ka Pace yang pada hari pertama menjemput kami di bandara Waisai dan mengantar kami ke pelabuhan. Kami memutuskan untuk menginap di Waisai sebelum besok pagi kami kembali ke Sorong. Kami bersiap-siap merapikan diri karena sore harinya sepupunya Ka Pace akan mengajak kami ke Waiwo Dive Resort, resort ini adalah resort tempat Presiden Jokowi menginap saat beliau mengunjungi Papua. Di tempat ini juga kami berkesempatan menaiki cruise yang singgah di resort ini.

Kembali ke Waisai

 

Waiwo Dive Resort

Jam 07.00 WIT kami dijemput lalu diantar ke pelabuhan, berbeda dari pelabuhan sebelumnya, pelabuhan ini cukup besar dan kapal-kapal yang ada juga besar. Kami memilih kembali ke Sorong dengan menggunakan kapal cepat karena kami ingin merasakan semua transportasi dan rute perjalanan di pulau ini. Perjalanan sekitar 2 jam, kami langsung menuju hotel tempat Ka Pace biasa menginap.

Pada sore harinya kami berjalan-jalan untuk membeli oleh-oleh dan sekalian mencari tempat untuk makan malam. Ka Pace mengajak kami makan di restoran tepi pantai yang mempunyai view pemandangan laut yang indah. Kami belum merasa puas, dan melanjutkan untuk makan di tempat lain, kemudian Ka Pace mengajak kami untuk makan seafood. Tempatnya seperti pasar malam. Tempat makan seafood tenda sih, tapi rasanya juara! Kami kalap dan memesan banyak banget makanan, ada ikan bakar, cumi goreng tepung, kerang, udang saus padang, cah kangkung tersedia di meja kami. Dengan sebegitu banyak makanan yang kami pesan awalnya kami pikir harganya pasti akan selangit, tapi ternyata kami salah, kami hanya membayar sekitar 250 ribuan. Perut kenyang, kantong aman, hati senang!

Seafood mural Mariah!

Lagi-lagi harus berpisah. Gua benci perpisahan. Kenapa ada pertemuan kalo harus ada perpisahan? Bukan sok drama queen tapi kebersamaan di Raja Ampat ini membuat kami semakin dekat dan pertemanan kami semakin erat, jadi seperti ada yang hilang begitu kami kembali ke rutinitas kami biasanya.

Sekitar jam 10.00 WIT kami sudah berangkat ke bandara, karena pesawat Ka Pace untuk kembali ke Jayapura terbang sekitar jam 11.00 WIT kami harus berangkat lebih pagi untuk mengantar Ka Pace kembali ke Jayapura, sedangkan pesawat kami jam 13.00 WIT jadi kami harus menunggu beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta.

Sedih memang mengakhiri liburan yang penuh keindahan dan banyak tercipta memori, tapi kami berjanji untuk kembali merencanakan liburan ke tempat-tempat lainnya yang gak kalah indahnya. Pengalaman pertama menginjakkan kaki di bagian timur Indonesia ini akan selalu menjadi topik yang menarik untuk terus diceritakan dan menjadi langkah awal buat gua untuk terus mengeksplore keindahan-keindahan disetiap sudut negeri Indonesia tercinta.

 

70 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *