Lifestyle Story Travel

A First Timer’s Trip To Raja Ampat, Papua

on
14 July 2018

Semua orang tau betapa indahnya negara Indonesia ini, negara yang memiliki banyak gugusan pulau-pulau. Raja Ampat, nama kabupaten yang ada di provinsi Papua Barat, merupakan salah satu lokasi yang sudah gua buktikan keindahannya. Matahari terbit nan cantik yang malu-malu untuk memunculkan rupa, air laut yang super jernih, gelitik pasir putih di antara kaki, awan cerah, deburan suara ombak yang membuat hati tenang, segala sesuatu dari tempat itu membuat gua merasa di surga.

Rencana untuk pergi ke tanah Papua ini memang sudah ada dalam benak gua sedari kuliah, ditambah gua punya temen kuliah yang memang putra asli Papua, Hendriko Mayor namanya. Disaat semua orang menanam keinginan untuk pergi ke Raja Ampat, Ka Pace aka Ka Hendriko sepertinya udah terlalu sering menikmati keindahan Raja Ampat, karena Raja Ampat merupakan kampung halamannya, tempat Ayahnya dilahirkan.

Gua bersama Rendy dan Dina (sahabat traveling gua) memutuskan untuk berlibur ke Papua. Setelah mendapat tiket pesawat yang ekonomis, kami memberi kabar Ka Pace yang lagi ada di Papua kalo kami akan berlibur kesana. Ka Pace antusias menyambut keinginan kami yang akan menyambangi tahan kelahirannya, karena menurutnya selama ini orang-orang hanya memberikan omongan-omongan kosong tanpa bukti. Sehingga kedatangan kami membuat semua sangat bersemangat dan kami gak sabar untuk menikmati keindahan Papua.

Seperti biasa gua selalu memilih midnight flight karena masih harus bekerja di siang harinya dan alasan lainnya adalah agar gua bisa tidur di pesawat. Gua bertemu Rendy dan Dina di bandara, karena flight kami bukan direct flight, jadi kami harus transit terlebih dahulu sekitar 2 jam di Makassar. Kami tiba di Bandar Udara Domine Eduard Osok-Sorong, Papua Barat pada jam 07.20 WIT. Ka Pace yang lebih dulu tiba di Sorong dari Jayapura menjemput kami di bandara.

Kami akan langsung melanjutkan penerbangan ke Waisai, Raja Ampat jam 12.00 WIT pada hari yang sama. Sambil menunggu, Ka Pace mengajak kami keliling kota Sorong sambil sesekali bercerita sejarah atau letak geografis Papua, yang jujur aja gua gak mengerti karena gua memang payah dalam hal geografis.

Di kota Sorong aja udah indah, air lautnya juga udah jernih banget dan Ka Pace bilang itu masih belum apa-apa dibanding pulau-pulau di Raja Ampat. Ka Pace mengajak kami ke hotel yang udah dia bookeduntuk istirahat sambil menunggu kedatangan kami, waktu kami gunakan untuk beristirahat sambil menunggu penerbangan kami selanjutnya menuju Raja Ampat. “Nanti mau kemana aja kita di sana?” Tanya Ka Pace. “Kemana aja kami ikut Ka, Kakak kan lebih tau kira-kira bagusnya dimana dan kemana enaknya” kami semua pasrah mau dibawa kemana aja.

Hotel di Sorong

 

Jam 11.00 WIT kami berangkat ke bandara Domine Eduard, perjalanan hanya sekitar 20 menit dari hotel. Begitu sampai di bandara kami langsung check in. Gak menunggu lama kami udah bisa boarding. Perjalanan dari Sorong ke Waisai dengan pesawat hanya 30 menit. Di Waisai kami di jemput sama sepupunya Ka Pace. Gua pikir begitu kami tiba, kami udah sampe di pulau-pulau kece instagram-able seperti yang gua liat di instagram atau google, ternyata kami masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 30 menit ke pelabuhan Waisai.

Menuju Waisai, Raja Ampat

Setelah tiba di pelabuhan kami dijemput sama sepupu Ka Pace yang lainnya, kali ini perempuan. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan boat. Pertama kami berhenti di pasir timbul, tempat ini hanya ada pada jam-jam tertentu saat air sedang surut, begitu air mulai pasang hilanglah tumpukan pasir yang seolah-olah seperti pulau di tengah lautan ini. Pemandangan yang dapat dilihat di pasir timbul ini benar-benar luar biasa indah apalagi saat waktu sudah mendekati matahari terbenam, warna langit yang tadinya biru cerah menjadi orange kemerahan. Keindahan alamnya benar-benar luar biasa, bahkan mata kamera sekalipun gak bisa menangkap keindahan yang hanya dilihat langsung oleh mata kita.

PASIR TIMBUL

Di perjalanan ke rumah yang akan kamu tinggali, kami melewati pulau kecil yang namanya pulau lumba-lumba. Sebenarnya kami tidak berniat untuk mampir di pulau ini, bukan karena tidak ingin, tapi karena hari udah terlalu sore. Tapi begitu boat kami melewati pulau ini dari kejauhan seorang laki-laki yang ternyata masih saudaranya Ka Pace memanggil-manggil kami. Akhirnya kami putuskan untuk mampir. Namanya pulau Lumba-Lumba karena setiap pagi sekitar pukul 05.00 sekumpulan lumba-lumba berenang dan memunculkan rupanya ke permukaan air.

Karena air mulai pasang dan langit mulai gelap, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Yenbuba. Di desa itu kami menginap untuk beberapa hari kedepan, salah satu desa di Raja Ampat dimana keluarga Ka Pace tinggal. Kakak dari Ayahnya Ka Pace tinggal disana bersama dengan anak dan beberapa orang cucunya, dengan senang hati mereka menerima dan menginzinkan kami untuk menumpang tinggal di rumah mereka selama kami berlibur di Raja Ampat. Tidak hanya itu, mereka juga menyiapkan sarapan dan membawakan kami bekal makanan untuk dibawa berkeliling pulau, dan makanan yang dimasak benar-benar membuat kalian akan makan berkali-kali, enak banget. Sambalnya benar-benar juara, jelas aja karena yang memasak adalah sepupunya Ka Pace yang memang seorang chef yang bekerja di resort milik warga negara Jerman di Raja Ampat.

Tidak hanya berlibur tapi gua juga belajar dalam perjalanan gua ke tanah Papua ini, melihat keadaan di tanah Papua membuat gua lebih menghargai hidup. Listrik tidak selalu ada 24 jam di desa ini, sehingga kami harus pintar dan hemat menggunakan gadget kami supaya gak kehabisan batrai untuk foto-foto atau membuat video. Air di desa ini juga gak sebanyak di tempat gua tinggal, jadi gua harus bisa mandi dengan air yang seadanya.

Hari berikutnya kami udah bangun dari jam 5 pagi agar kami bisa menikmati sunrise, kami pergi ke spot yang menurut Ka Pace adalah spot paling kece untuk menikmati sunrise. Sebuah jembatan panjang hingga hampir ke bagian tengah, dengan view beberapa pulau kecil disebrangnya dan lautan yang seperti tak berujung, menjadi tempat kami untuk menunggu matahari itu memunculkan rupanya perlahan-lahan. Indah, hanya kata itu yang melintas di otak gua saat melihatnya.

Finally the sun is coming up!

Sekitar jam 7 pagi kami kembali ke rumah dan bersiap-siap, setelah itu kami melanjutkan petualangan ke Pianemo. Perjalanan sekitar 2,5 jam dari Yenbuba dengan menggunakan boat tentunya. Beruntung cuaca kala itu tidak terlalu panas tapi tidak juga hujan, dan awan pun begitu cerah. Sepanjang perjalanan menuju Pianemo tanpa gua sadari kata-kata seperti “Bagus banget”, “Indah banget”, “Luar biasa viewnya” berulang kali keluar dari mulut gua. Bukan lebay tapi ini benar-benar pemandangan luar biasa, gua seneng banget saat itu, sampe rasanya mau nangis karena terharu. Beneran deh bukannya lebay!

Kalian tau ikan terbang gak sih? Pernah liat gak ikan terbang kaya gimana? Awalnya gua pikir penampakan dari ikan terbang itu seperti yang ada di logo Indosiar, dan hanya mitos belaka. Tapi ternyata, pertama kali sepanjang umur gua hidup di dunia, gua melihat yang namanya ikan terbang. “Itu apa? Burung ya?” Tanya gua. Awalnya gua pikir itu semacam burung yang terbang ke permukaan air untuk memakan ikan kecil atau untuk minum. “Bukan itu ikan terbang” Ka Pace menjawab. “Serius ada ikan terbang?” gua memastikan dan semua mengangguk. Bukan ikan yang terbang di atas langit, ikan ini hanya muncul dengan ketinggian sekitar 20-30 cm di atas permukan air laut dan ikan ini bisa meluncur cepat sambil mementangkan siripnya seolah-olah seperti terbang. Mungkin buat kalian yang memang udah tau tentang hal itu, bakal mikir gua norak, gak apa-apa kok, iya gua norak baru pertama kali liat soalnya jadi sampe sekarang pun masih suka excited kalo ceritain tentang liburan ini.

Begitu kami tiba dan menepi di Pianemo, kami duduk-duduk sebentar sambil meminum air kelapa. Dari pinggir aja kalian udah bisa liat ikan-ikan kecil yang berwarna warni berenang di dalam air. Rasanya ingin langsung loncat dan berenang. Untuk naik dan melihat view dari atas, kami harus menaiki anak tangga. Ada sekitar 100 anak tangga yang harus dinaiki sebelum sampai di puncak, terasa berat sebenarnya karena kami tipe orang yang malas berolahraga, tapi rasa capek dan lelah terbayar begitu kami sampai di puncak di mana biasanya orang-orang berfoto dengan latar belakang gugusan batu-batu dan air laut yang biru. Lagi-lagi kata yang bisa gua ucapkan hanya amazing.

PIANEMO

 Selanjutnya kami pergi ke telaga bintang, sebenarnya Telaga Bintang ini masih di sekitar Pianemo, seolah bersebalahan dengan spot foto yang pertama. Untuk melihat keindahan di tempat ini kami juga harus mendaki, tapi kali ini tidak ada anak tangga dan kami harus memanjat bebatuan. Apa kalian akan menyesal memanjat bebatuan yang tidak seberapa untuk menikmati keindahan seperti ini? Kalo gua yang ditanya, dengan lantang gua akan jawab GAK. Untuk dapat pengalaman yang luar biasa memang harus ada effort yang dikeluarkan.

TELAGA BINTANG

 

TELAGA BINTANG

Selanjutnya adalah Yeben! Menurut Ka Pace belum banyak yang tau tentang keindahan pulau Yeben ini. “Ini surga yang tersembunyi, Mel” begitu katanya saat itu. Yeben adalah pulau kecil yang tidak berpenghuni, belum terexpose dan masih benar-benar asri. Gak perlu jauh hingga ke tengah lautan untuk dapat melihat bintang laut, dari pinggir pantai aja udah banyak banget bintang laut yang bisa dilihat. Kami berenang dan snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut di pulau ini. Ikan-ikan kecil seperti nemo dan dori mudah sekali ditemukan diantara terumbu karang di pulau Yeben ini.

YEBEN

Kami melanjutkan perjalan kami ke suatu desa bernama Arborek. “Di Arborek hatiku ku tinggal” seperti itu mungkin ungkapan lebay yang bisa gua ucapkan. Pulau ini benar-benar cantik. Begitu boat kami bersandar kami sudah disambut oleh perempuan tua, beberapa perempuan paruh baya, dan anak-anak kecil yang seolah-olah menunggu kami sejak lama, perempuan tua itu adalah Bibinya Ka Pace, saudara dari Ayahnya Ka Pace. Di desa ini mereka tinggal, mereka memiliki beberapa homestay disini.

Mereka sengaja menyiapkan makanan yang banyak sekali karena tau kalau kami akan datang. Ikan bakar yang sangat amat besar dihidangkan di atas meja, belum lagi beberapa hidangan seafood lainnya, kami sampai kewalahan untuk menghabiskannya.

Ada satu anak yang benar-benar membuat perhatian kami terfokus, Niko namanya. Anak kecil yang usianya baru beberapa bulan ini sangat lucu dan tidak rewel. Gua yang sebenarnya gak menyukai anak kecil aja jadi tertarik untuk bermain bersama Niko. Gua, Dina, dan Rendy bergantian menggendongnya dan berfoto bersamanya, kami sempat berjanji “Niko, tunggu kami datang lagi ya. Akan kami bawakan baju-baju dan mainan yang lucu untuk Niko” begitu janji kami pada Niko. Setelah puas bermain dengan Niko, akhirnya Niko tertidur lelap. Kami melanjutkan aktifitas kami di Arborek, kami berenang-renang di pinggir dermaga, memberi makan ikan sambil mengabadikan momen ini dalam video.

NICO si ana Arborek

NICO si ana Arborek

Aren’t they cute?

Hari udah mulai sore dan kami harus kembali ke Yenbuba. Sebenarya gua agak males cerita bagian ini, karena setiap ada perpisahan pasti ada adegan mellow-mellow. Mungkin karena sangat jarang bertemu dan sekalinya bertemu waktunya hanya sebentar membuat Bibinya Ka Pace sedih melepas kepergian keponakannya ini. Dengan sedih dia duduk di pinggir dermaga sambil melambaikan tangan kearah boat yang terus melaju menjauhi pulau itu. Selain sedih karena berpisah dengan sanak saudara kami juga sedih karena harus berpisah dengan Niko. “Doakan aku banyak rejeki ya Niko, nanti aku akan datang lagi” itu kata yang gua bisikkan di telinganya.

Diperjalanan kembali ke Yenbuba, kami mampir sebentar ke Sawingrai, disini ada sanak keluarga Ka Pace juga, jadi kami memutuskan untuk mampir dan bersilahtuhrahmi. Dari pinggir boat kami udah bisa melihat ikan-ikan yang cantik, lalu akhirnya kami dibuatkan adonan tepung untuk memberi makan ikan-ikan. “Bagus banget, banyak banget ikannya, warna-warni lagi” kata Dina. “Coba adonannya taro di sela-sela kaki, nanti ikannya makanin disitu berasa kaya lagi di spa” Ka Pace memberikan ide. Dengan polosnya gua mengikuti saran dari Ka Pace itu. Awalnya sih memang seperti di spa, tapi tiba-tiba ikan yang sedikit lebih besar dari yang lainnya datang dan mengantuk jari kaki gua “Aduh, kaki gua digigit” dengan kaget gua teriak. “Kayanya itu hiu deh yang gigit kaki gua” lanjut gua, dan mereka semua hanya mentertawakan kejadian itu.

Sunset dari atas boat

Sunset dari atas boat

Sama seperti hari sebelumnya kami bangun di pagi hari dan menyaksikan matahari terbit. Saat itu adalah hari terakhir kami tinggal di Yenbuba dan harus kembali ke Waisai. Setelah bersiap kami pergi menuju Friwen, ini merupakan pulau terakhir yang kami kunjungi selama kami berada di Raja Ampat. Di pulau ini gua mendapatkan, hmm apa ya gua bilangnya, sebenarnya ini luka di lutut gua akibat gua terjatuh dan terkena pasir dan batu karang. Tapi ini bukan sekedar luka buat gua, ini tanda pengingat yang selalu mengingatkan gua sama keindahan tanah Papua. Gak jelas sih memang, tapi gak apa-apa lah suka-suka gua, yang luka juga gua kan bukan yang lain hahaha

FRIWEN

 

FRIWEN

Kalo kalian lihat foto yang jadi background di blog gua ini, itu adalah bukti dari cantiknya pulau Friwen. Foto dimana gua, Dina, Rendy, dan Ka Pace berlari kearah pantai, dan gua jatuh hingga akhirnya mendapat “Hadiah” luka di lutut kiri gua. Gimana menurut kalian? Indah bukan pulaunya?

Kami tiba di desa Waisai sekitar jam 15.00 WIT, kami di jemput sepupunya laki-laki Ka Pace yang pada hari pertama menjemput kami di bandara Waisai dan mengantar kami ke pelabuhan. Kami memutuskan untuk menginap di Waisai sebelum besok pagi kami kembali ke Sorong. Kami bersiap-siap merapikan diri karena sore harinya sepupunya Ka Pace akan mengajak kami ke Waiwo Dive Resort, resort ini adalah resort tempat Presiden Jokowi menginap saat beliau mengunjungi Papua. Di tempat ini juga kami berkesempatan menaiki cruise yang singgah di resort ini.

Kembali ke Waisai

 

Waiwo Dive Resort

Jam 07.00 WIT kami dijemput lalu diantar ke pelabuhan, berbeda dari pelabuhan sebelumnya, pelabuhan ini cukup besar dan kapal-kapal yang ada juga besar. Kami memilih kembali ke Sorong dengan menggunakan kapal cepat karena kami ingin merasakan semua transportasi dan rute perjalanan di pulau ini. Perjalanan sekitar 2 jam, kami langsung menuju hotel tempat Ka Pace biasa menginap.

Pada sore harinya kami berjalan-jalan untuk membeli oleh-oleh dan sekalian mencari tempat untuk makan malam. Ka Pace mengajak kami makan di restoran tepi pantai yang mempunyai view pemandangan laut yang indah. Kami belum merasa puas, dan melanjutkan untuk makan di tempat lain, kemudian Ka Pace mengajak kami untuk makan seafood. Tempatnya seperti pasar malam. Tempat makan seafood tenda sih, tapi rasanya juara! Kami kalap dan memesan banyak banget makanan, ada ikan bakar, cumi goreng tepung, kerang, udang saus padang, cah kangkung tersedia di meja kami. Dengan sebegitu banyak makanan yang kami pesan awalnya kami pikir harganya pasti akan selangit, tapi ternyata kami salah, kami hanya membayar sekitar 250 ribuan. Perut kenyang, kantong aman, hati senang!

Seafood mural Mariah!

Lagi-lagi harus berpisah. Gua benci perpisahan. Kenapa ada pertemuan kalo harus ada perpisahan? Bukan sok drama queen tapi kebersamaan di Raja Ampat ini membuat kami semakin dekat dan pertemanan kami semakin erat, jadi seperti ada yang hilang begitu kami kembali ke rutinitas kami biasanya.

Sekitar jam 10.00 WIT kami sudah berangkat ke bandara, karena pesawat Ka Pace untuk kembali ke Jayapura terbang sekitar jam 11.00 WIT kami harus berangkat lebih pagi untuk mengantar Ka Pace kembali ke Jayapura, sedangkan pesawat kami jam 13.00 WIT jadi kami harus menunggu beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta.

Sedih memang mengakhiri liburan yang penuh keindahan dan banyak tercipta memori, tapi kami berjanji untuk kembali merencanakan liburan ke tempat-tempat lainnya yang gak kalah indahnya. Pengalaman pertama menginjakkan kaki di bagian timur Indonesia ini akan selalu menjadi topik yang menarik untuk terus diceritakan dan menjadi langkah awal buat gua untuk terus mengeksplore keindahan-keindahan disetiap sudut negeri Indonesia tercinta.

 

TAGS
RELATED POSTS
70 Comments
  1. Reply

    Kartini

    14 July 2018

    Indonesia bagian timur itu indah banget ya, Kak Amel…
    Ceritanya seru banget, foto-fotonya juga kece banget…
    Jadi kepingin kayak Kakak Amel bisa ke Raja Ampat. Ulalala

    • Reply

      Amelia

      17 July 2018

      Iya kaaarrr, elu sih susah banget kalo diajak jalan kebanyakan lembur kerja. Next acarakan trip bareng

  2. Reply

    Glebova

    15 July 2018

    Gw paling suka foto lu gendong niko..
    Uunnch niko lucyuu..
    Amel mommyable bingiit *,*

    Lanjutkan mel!!!!

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Lucu kaaaannn, gemesin banget emang anaknya.. sama imutnya lah ya sama gua

  3. Reply

    Ristiyanto

    16 July 2018

    Kalau dihitung-hitung famili Ka Pace ada : Sepupu 1, Sepupu 2, Saudara, Paman, Keponakan, Bibi dan yang terakhir Sanak keluarga di Sawingrai.
    Banyak banget hehehe….

    Bisa liat ikan terbang seru banget nih. Fotonya Nico juga lucu…

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Iya nico memang lucu sekali! Benar sekali kak pace memang keluarga besar jadi sanak keluarganya banyak 🙂

  4. Reply

    Deny Oey

    16 July 2018

    Akhirnya bisa baca cerita yg sangat “personal” baik dari segi bertutur maupun gaya bahasa.. ☺️
    Lanjutkan sist!

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Makasih kak 😁

  5. Reply

    Mutiara SWW

    16 July 2018

    Aaaaah…. Your picture really show me the part of heaven left in Papua, Kak Mel. Suka banget sama foto2 di Yewen nya. Ini harus banget masuk bucket list dan perencanaan keuangan, nih. Hehehe….

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Thank you kak, iya kak ini Must visit banget kak!

  6. Reply

    tuty prihartiny

    16 July 2018

    First timer trip ke Raja Empat yang kaya pengalaman dan kenangan ya Kak.
    Entah kenapa, saya agak berdegup saat mendengar di beberapa lokasi, sudah ‘dilengkapi’ dengan anak tangga.
    Saya jadi teringat, saat guide lokal mengajari kami cara mendaki bukit karang disana, tanpa ‘melukai’ karang yang masih bisa tumbuh dan tidak juga melukai kaki kita…

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Trip raja ampat ini sepertinya gak akan terlupakan kak. Benar-benar membekas di hati

  7. Reply

    Maria Widjaja

    16 July 2018

    Cerita perjalanan yang dikemas secara menarik, Kak. Foto-fotonya juga bagus. Thank you for sharing this, yah

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Thank you kaa, untuk foto-foto lainnya bisa dilihat di ig aku ameliaarianto 🙂

  8. Reply

    Lala Yusuf

    16 July 2018

    Belum pernah ke raja ampat. Tapi suka sekali dengan foto-foto Kak Amel. Btw keseluruhannya budget yg dikeluarkan berapa tuh kira-kira?

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Untuk budget kemaren untungnya gak terlalu keluar banyak kok kaaa. Karena dapet harga tiket yg ekonomis dan disana juga ada ka pace

  9. Reply

    Yunita Tresnawati

    16 July 2018

    Seperti biasa selalu berdecak kagum tiap orang bercerita tentang kunjungannya ke Indonesia timur. Senja dan sunsetnya indah banget, sampai berkali bolak-balik baca dan lihat fotonya. Kapan2 kalau suatu saat saya ke sana minta nomornya Hendriko Mayor ya, lumayan local guide hehehhe

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Sunset dan sunrise benar-benar luar biasa disana! Foto-foto lain bisa di cek di Instagram aku ameliaarianto. Untuk info ka pace nanti bisa kontak aku ko, tenaaang.

  10. Reply

    Taumy

    17 July 2018

    Indonesia luar biasa memang indahnya dan Raja Ampat mewakili keindahan dari Timur. Beruntung juga punya teman di Papua, jadi banyak guide lokal yang menemani.

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Sebenarnya gak hanya papua kok yang bagus di indonesia timur. Masih banyak pulau lain di indonesia timur yg sama indahnya

  11. Reply

    Eka Rahmawati

    17 July 2018

    Aku iri berat sama kakak karena udah ke Raja Ampat hehehe. Btw mau tahu dong kak, kira2 liburan ke Raja Ampat ini abis berapa budget totalnya? Siapa tahu nanti aku ada rejeki buat ke sana hehehe

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Boleh kak, nanti tinggal email atau dm aku aja di ig ameliaarianto 😁

  12. Reply

    Budi Setiadi

    17 July 2018

    Duh foto-fotonya bagus bangettt.. Ditambah tulisannya juga menarik banget. Pengen banget bisa ke sana, oh Raja Ampat,, I will go there someday..

    • Reply

      Amelia Arianto

      17 July 2018

      Raja ampat ini must visit banget lah pokoknya kak!

  13. Reply

    Dewi Setyowati

    17 July 2018

    Pasti tak terlupakan ya pengalaman pertama hehe.. Foto-fotonya bagus bangeeet.. Semoga suatu saat bisa menjejakkan kaki juga ke Indonesia bagian timur. I wish!

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Iya bener kak, foto lainnya bisa di cek di ig aku @ameliaarianto 😁

  14. Reply

    Dayu Anggoro

    17 July 2018

    Aih keren banget cerita perjalananya, Indonesia Timur emang bener-bener banyak tempat eksotis yang masih tersembunyi.

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Masih banyak cerita-cerita di indonesia bagian timur lainnya. Ditunggu yaa 😁

  15. Reply

    achi hartoyo

    17 July 2018

    Salah Satu destinasi impian, entah kapan bisa mendaratkan kaki di sana

  16. Reply

    Kalena Efris

    17 July 2018

    Ke sana ngabisin budget berapa kak? Dan di Raja Ampat itu ramah buat backpacker atau nggak? Seperti camping menggunakan tenda untuk menghemat budget gitu?

    Btw Raja Ampat emang baguss banget. Dan kakak ngeliat ikan terbang itu ga lebay kok. Aku juga kalo ngeliat itu pasti bakal excited kyk kakak 😂

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Raja ampat aman kok buat para backpacker. Cuma karena kami tidak camping, jadi jujur aku gak bisa banyak saran.

  17. Reply

    Antin Aprianti

    17 July 2018

    Cerita perjalanannya seru banget kak, apalagi liat foto-fotonya yang keren-keren. Sukses bikin mupeng, Indonesia Timur memang indah sangat.

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Sangat indah kak, gak pernah bosan-bosan untuk bilang indah

  18. Reply

    Rama Murtaba

    17 July 2018

    Wah keren banget. Destinasi wisatanya juga baguuuus. Raja Ampat emang surga banget sih ya.

  19. Reply

    Arlindya Sari

    17 July 2018

    Waw….envy. Foto2 nya bagus. Semoga aku bisa menginjakkan kaki disana, sama dia hehe

  20. Reply

    lenifey

    18 July 2018

    Wah enak nih kalo punya teman asli orang sana.. bisa dikasih tahu tempat2 yang jarang dikunjungi orang.. gak diragukan lagi.. raja ampat memang juara sekali..
    Hai nico.. duh gembul dan lucu sekali si adek inii..

  21. Reply

    Putri Reno

    18 July 2018

    Selamat Kak Amel. Sudah dapat menikmati potongan surga dunia. Kok pas baca:

    “Namanya pulau Lumba-Lumba karena setiap pagi sekitar pukul 05.00 sekumpulan lumba-lumba berenang dan memunculkan rupanya ke permukaan air.”

    jadi antusias banget ya. Fans banget saya sama lumba-lumba.

    Arborek banyak yang tertinggal hatinya disana. Apakah nanti saya juga ya? Cerita perjalannya seru kak, asyik, ringan dan bikin penasaran. Bakal jadi investasi kenangan yang susah lupa nih trip to Raja Ampat Papua.

    Klo ada waktu boleh kak mampir ke http://www.celotehanputeno.com bagi pecinta pantai dan laut ada beberapa info menarik disana.

  22. Reply

    Ifa Mutia

    18 July 2018

    Surga dunia…indaaaah sekali.
    Seneng lihat photo photonya termasuk photo dengan anak anak disana, they are so cute.
    Raja Ampat..I will visit you someday..
    Thanks sharing nya ya

  23. Reply

    Hayati

    18 July 2018

    Wah trip ke Raja Ampat kayaknya impian semua orang juga nih dan Kak Amel beruntung banget udah sempat kesana, aku jadi ngiriiii. Tapi transportasi kesana lumayan juga ya kayaknya tapi terbayarlah semuanya dengan keindahan Raja Ampat ya, kaa 😍

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Iya sebenarnya memang agak mahal transport disana tapi untung semua ada ka pace. Sangat membantu dan memudahkan kami selama disana

  24. Reply

    Nunik Utami

    18 July 2018

    Menurut saya orang yang bisa ke Papua, beruntung banget. Masih wilayah Indonesia tapi biaya ke sana jauh lebih tinggi daripada ke luar negeri, dan alamnya luar biasa bagus. Nggak rugi jauh-jauh dan ongkos mahal. Yang didapat lebih dari sepadan. Bangga banget deh, kalau bisa jadi saksi hidup alam Papua.

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Bener banget kak, aku aja nagih banget nih pengen kesana lagi

  25. Reply

    Lisa Fransisca

    18 July 2018

    Ahhh cantik banget ya Raja Ampat itu. Foto-fotonya bagus banget, Kak! Sweatermoga suatu saat nanti bisa menginjakkan kaki di Tanah Papua juga seperti Kak Amelia.

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Apa yang ada di foto gak ada apa-apanya dibanding lihat langsung kak! Must visit lah papua ini

  26. Reply

    airin

    18 July 2018

    Perjalanan yang sangat menarik, lengkap wisata nya, teman ada yang bekerja di Sorong namun untuk ke Raja Ampat masih memerlukan perjalanan dan akomodasi yang cukup menguras dompet apakah memang seperti itu, sayang sekali kalau akomodasi di tempat seindah itu belum mencukupi untuk para wisatawan.

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Sempatkan untuk datang! pasti gak akan menyesal

  27. Reply

    Diah Sally M

    18 July 2018

    Waah pas di Friwen lompat dari atas pohon? Gile berani banget hahaha

    Paling asik di Pasir Timbul, tenang banget. Jadi ga pengen balik ke Jakarta hahaha

  28. Reply

    Citra Rahman

    18 July 2018

    Ini pasti seru banget perjalanannyaaaaa… Bikin iri banget deh membacanya. Asyik banget ya jalan-jalan dengan putra daerah karena pasti urusan jadi lebih mudah dan tahu banyak spot-spot yang kece. Itu bayi Niko lucu bangey sumpah! Gemesin.

  29. Reply

    Iqbal

    18 July 2018

    Pantai yg begitu sebetulnya banyak di Indonesia, apalg timur. Tapi jarang yg infrastrukturnya bagus

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Raja ampat berbeda! saya udah ke beberapa tempat di indonesia bagian timur, semua memang indah tapi tetap berbeda dengan raja amapat. Semua memiliki keistimewaan masing-masing. Masalah infrastruktur sekarang ini sepertinya udah gak sesulit dulu.

  30. Reply

    Wulan

    18 July 2018

    ihhh seru banget sih jalan-jalan ke raja ampat! Suka banget yang pas di pianemo itu, cantik banget! I wanna go there :))

  31. Reply

    Maya Nirmala Sari

    18 July 2018

    Bikin iri, Kak Amel! Cantik-cantik banget fotonya. Pemandangannya maupun modelnya. Ekspresif gitu ketawa lepas kelihatan banget bahagia.

  32. Reply

    Dede Ruslan

    18 July 2018

    bener-bener beda yaa raja ampat itu, walau jauh tapi sebanding lah sama pemandangan dan suasananya. dan bisa ngeliat lumba-lumba di alam bebas

  33. Reply

    Puspa Harahap

    18 July 2018

    Amel… Daku jadi yang terakhir comment. sok sibuk hahaha. i’m sorry.. #lebay
    sudah liat juga di ig foto-foto dan sepenggal ceritanya di caption.
    semuanya emang selalu keren. udah paham banget juga deh gaya penulisan amel
    keren….

    • Reply

      Amelia Arianto

      18 July 2018

      Puspaaaa, semoga gak bosen ya kalo diminta baca tulisan dan komentar! jangan bosen juga liat foto-foto di ig dengan caption yang kadang suka gak jelas haha

  34. Reply

    Agusonpapers

    18 July 2018

    duuuh jauh banget mainnyaa…..itu nyeritainnya bagus, foto-fotonya bagus, feelnya dapet, suasananya juga ngena banget…keren amel, sampe nyecroll bolak-balik naik turun saking mupengnya…

  35. Reply

    Agusonpapers

    18 July 2018

    duuuh jauh banget mainnyaa…..itu nyeritainnya bagus, foto-fotonya bagus, feelnya dapet, suasananya juga ngena banget…keren amel, sampe nyecroll bolak-balik naik turun saking mupengnya…

  36. Reply

    titi

    18 July 2018

    Surga di ujung timur indonesia. Sejujurnya saya belum pernah ke daerah timur, dan jadi makin ingin. Kak Amel sukses bikin saya ngiler ke sana.

  37. Reply

    fajar

    18 July 2018

    Keren banget pemandangannya begitu indah ditambah lagi dengan keramahan dan kepolosan warga sekitar membuat tempat itu begitu sempurna

  38. Reply

    Nasa

    18 July 2018

    Njir bagus banget. Itu telaga bintang emang bner kliatan ky bintang ya.
    Dah lama pingin krsini tp blom kesampean

  39. Reply

    Ndari

    18 July 2018

    Wuahh pesawat kecil udah ada ya? Cepet bgt majunya..
    Arborek tuhh emang slalu dihate warna aer ijonya…sama penduduknya yg Papua bgt ketimbang d Waisai ya?

    Beruntung bgt kak kawannya bner2 yg punya Raja Ampat itumah 😄

  40. Reply

    Inez

    19 July 2018

    tempat yg wajib didatengin di indonesia

  41. Reply

    Inez

    19 July 2018

    keren tempatnya
    pengen suatu saat nanti kesana
    thx udah sharing

  42. Reply

    Eka Muchlis Salim Siregar

    19 July 2018

    Seru ya main-main ke Papua. By the way.. Pace itu kan panggilannya utk bapak-baoak dan Mace panggilan utk ibu-ibu

  43. Reply

    Eka Muchlis Salim Siregar

    19 July 2018

    Timur memang mempesona, 4 tahun tinggal di sana dulu benar-benar
    By the way Pace itu kan panggilan untuk bapak-bapak dan Mace panggilan untuk ibu-ibu…

  44. Reply

    rizki rakhmat

    19 July 2018

    duh enak ya.. saya belom kemana2 neh kak syedihh

  45. Reply

    elsalova

    19 July 2018

    seru banget ya kak, terimakasih cerita nya, bisa jadi listplan aku kalo main kesini.

  46. Reply

    kelanakucom

    21 July 2018

    Destinasi impian banget nih Raja Ampat. Pengen kesana tapi nunggu bisa diving dulu.. hihi biar ga rugi 🙂

  47. Reply

    Kontengaptek

    6 August 2018

    Bagus banget destinasi di papua yang satu ini.. Bener-bener indah ya negri indonesia.. Pengen banget kesana jadinya..

  48. Reply

    Astin Soekanto

    27 August 2018

    Indah banget ya ka Papua.. ! Jadi pengin ke sana deh. Moga bisa Oktober nanti! Amin.
    Harga makanan masih terjangkau kan ya?
    salam kenal btw 🙂

LEAVE A COMMENT

Amelia
Indonesia

This is Amelia and this is my Journey! I write this awesome blog just to tell you my stories. Through all the places and things I see and feel around the world, there isn't a best way to share my adventures and experience! Follow my daily updates and discover with me the essence of traveling!

thejourneyofamelia.com

The very basic core of daddy’s little girl’s living spirit is her passion for lifes, adventures and storytelling